Al-Qur’an merupakan kitab yang diturunkan Allah SWT kepada Rasul-Nya sebagai pedoman dan petunjuk bagi hamba-Nya supaya dibaca tulisannya, difahami maknanya, dan diamalkan isinya. Namun sangat disayangkan, Al-Qur’an yang seharusnya dijadikan pedoman hidup, sekarang banyak dilalaikan bahkan yang lebih memprihatinkan lagi, masih banyak di antara kaum muslimin yang masih belum mampu membaca Al-Qur’an. Kalau membaca Al-Qur’an saja tidak bisa, bagaimana memahaminya? alhasil, Al-Qur’an masih dijadikan sekedar pajangan rumah saja.
Makna Al-Quran
Al-Qur’an secara bahasa artinya membaca atau mengumpulkan. Adapun menurut syara’ adalah kalam (perkataan) Allah SWT yang diturunkan kepada Rasul dan penutup para Nabi-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diawali dengan surat Al-fatihah dan di akhiri dengan surat An Naas.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al Quran kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur ”
(QS. Al-Insan: 23)
“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Quran dengan berbahasa arab agar kalian memahaminya” (QS. Yusuf: 2)
Tujuan Al-Qur’an
Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa Al Qur`an yang mulia ini diturunkan
untuk tiga hal:
1. Beribadah kepada Allah SWT dengan membacanya
2. Dipelajari isi dan kandungannya dan
3. Diamalkan.
Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka mempelajari Al Qur`an tidak lebih dari sepuluh ayat, sampai mereka memahami ilmu yang dikandungnya dan mengamalkannya.
Barulah setelah itu mereka menambah dengan ayat yang lain. Hingga seorang diantara mereka pernah mengatakan:
“Apabila kami mempelajari sepuluh ayat Al-Qur’an kami tidak
berinjak meneruskannya hingga kami mendalaminya, mengilmui kandungannya dan mengamalkannya.”
Wahai saudaraku marilah kita mendekatkan diri beribadah kepada Allah SWT dengan banyak membaca Al Qur`an. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam kerapkali memotivasi kaum muslimin supaya mereka rajin membaca
Al Qur`an.
Diantaranya beliau bersabda ;
“Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitab Allah SWT (Al Qur`an) maka akan memperoleh satu kebaikan, dan kebaikan tersebut dilipat gandakan menjadi sepuluh kebaikan, aku tidak mengatakan (Alif Laaam Miim) satu huruf, akan tetapi “alif” satu huruf, “lam”satu huruf, “mim” satu huruf””.
Sabdanya pula:
“Bacalah Al Qur`an, karena sesungguhnya dia akan datang pada hari kiamat sebagai pembela bagi orang yang mempelajarinya dan menta`atinya”.
Akan tetapi tidak cukup hanya sekedar membacanya. Meskipun hal itu
sudah mendapatkan pahala yang berlimpah dari Allah SWT sesuai sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diatas.
Tetapi harus dipahami maknanya. Sebab tanpa memahaminya, tidak akan mendapat petunjuk.
Dalam FirmanNYa:
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur`an ataukah hati mereka
terkunci”. (QS. Muhammad 24).
Berkata Ibnu Katsir:
“Allah SWT memerintahkan agar Al Qur`an ditadabburi dan
dipahami maknanya dan melarang berpaling dari Al Qur`an (tidak mau
mamahaminya) (bagi siapa yang tidak mau mentadaburinya) maka hatinya
terkunci, makna Al Qur`an sedikitpun tidak bisa masuk kedalamnya.”
1. Al Quran sumber ilmu pengetahuan dan sebagai wujud kesejahteraan di dunia
Al Qur’an merupakan sumber ilmu pengetahuan yang mengeluarkan manusia dari kegelapan. Pelajarilah alam semesta ini, semua digelar dan dicipta agar dipelajari oleh manusia yang dianugerahi akal budi, namun hanya yang berakal atau yang menggunakan akalnyalah yang dapat menerima pelajaran dan ilmu tersebut.
Derajat dan keadaan orang yang tidak berilmu
Tanpa ilmu manusia sering dan suka berdusta terhadap yang lainnya, dengan maksud menyesatkan manusia. Dia akan mengikuti dan menuruti hawa nafsunya sendiri tanpa kendali. Wajib kita berpaling dari orang bodoh. Dosa akibat perbuatan yang tidak diketahui (karena kebodohan) akan diampuni asalkan mau bertobat dan memperbaiki dirinya.Keutamaan dan derajat orang yang berilmu. Orang berilmu akan takut kepada Allah, mengakui keesaan Allah, dan membenarkan sesuatu yang datang dari-Nya. Pahala yang besar bagi yang berilmu, dan Allah meninggikan derajatnya, (baik di sisi Allah maupun di hadapan manusia) di antaranya, sebagai tempat bertanya.
Kewajiban menuntut ilmu dan mengajarkannya.
Menuntut ilmu adalah suatu kewajiban, mengajarkannya kepada orang lain hendaklah dengan jelas, dengan terang, dan janganlah menyembunyikan yang benar. Hendaklah mengajarkan sesuatu dengan penuh kebijaksanaan (penuh hikmah). Di sinilah mulianya tugas pendidik, karena ia mempunyai kewajiban untuk mengajarkan ilmunya kepada anak didiknya dengan penuh hikmah dan keteladanan. Guru harus dapat membedakan ilmu yang amaliah dan amal yang ilmiah.
Ilmu adalah suatu pengetahuan ilmiah yang memiliki syarat-syarat :
Dasar Pembenaran yang dapat dibuktikan dengan metode ilmiah dan teruji dengan cara kerja ilmiah.
Sistematik, yaitu terdapatnya sistem yang tersusun dari mulai proses, metode, dan produk yang saling terkait.
Intersubyektif, yaitu terjamin keabsahan atau kebenarannya
Sifat ilmu yang penting:
1. Universal : berlaku umum, lintas ruang dan waktu yang berada di bumi ini
2. Communicable : dapat dikomunikasikan dan memberikan pengetahuan baru kepada orang lain
3. Progresif : adanya kemajuan, perkembangan, atau peningkatan yang merupakan tuntutan modern
Ilmu dari sisi Keyakinan atau Agama Islam : Ilmu Allah meliputi segala sesuatu
Perumpamaan tidak terbatasnya ilmu Allah adalah, jika kita hendak menulisnya dengan pena dan tinta. Allah mengetahui segala sesuatu yang ada di langit dan yang ada di bumi. Di sisi Allah kunci-kunci yang ghaib dia mengetahui segala yang tampak, segala sesuatu yang ghaib, dan yang nyata (jelas), segala yang tersembunyi dan yang nyata, segala yang dirahasiakan, dan yang dilahirkan oleh manusia, yang dahulu dan yang kemudian, yang masuk ke dalam bumi dan yang keluar dari dalam bumi, yang turun dari langit dan yang naik padanya.
Ilmu manusia berasal dari Allah dan sangat terbatas. Allah memberi ilmu kepada nabi Adam a.s. dan mengajari manusia apa-apa yang tidak diketahuinya dengan kalam. Ilmu manusia sangat sedikit dan terbatas. Yang diketahui oleh manusia karena kehendak Allah jua. Manusia dilahirkan tanpa ilmu/tidak mengetahui sesuatu pun, diberi-Nya pendengaran agar memperoleh ilmu dengan pengabaran, diberi-Nya penglihatan agar memperoleh ilmu dengan melihat kenyataan, dan diberinya hati/akal agar memperoleh ilmu dengan penalaran atau proses memahami.
2. Kisah turunnya Al Quran dan mukjizat para nabi sebagai wujud kesejahteraan di akhirat
Peristiwa Nuzulul Quran atau turunnya al-Quran terjadi pada malam Jumat, 17 Ramadan, tahun ke-4, peristiwa tersebut disadur oleh kalangan ulama berdasarkan dalil-dalil yang terkandung dalam Al Quran yang menjelaskan peristiwa penurunan kitab suci Allah itu.
Kebanyakan ulama berpendapat, al-Quran diturunkan pada malam al-qadar. Ini berdasarkan kepada surat al-Qadr, ayat 1 hingga 5 yang artinya:
“Sesungguhnya, Kami telah menurunkannya (al-Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu, turun malaikat-malaikat dan Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”.
Sebagian ulama pula mengatakan al-Quran turun pada bulan Ramadan dengan berdasarkan kepada surat al-Baqarah, ayat 185.
Allah s.w.t. berfirman: “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan batil)”.
Berbanding dengan kedua-dua surat tersebut, ada juga kalangan ulama berpendapat lailatul qadar adalah pada 17 Ramadan. Ini terkandung dalam surah al-Dukhan, ayat 3,
Allah s.w.t. berfirman: “Demi kitab (al-Quran) yang menjelaskan, sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkati, dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan”.
Berdasarkan kepada surah tersebut, malam yang diberkati ialah malam al-Quran pertama kali diturunkan. Kebanyakannya menganggap ia jatuh pada tanggal 17 Ramadan.
Al-Quran adalah anugerah paling istimewa kepada umat manusia kerana ia diturunkan dalam bulan paling istimewa yaitu Ramadan yang mengandung rahmat dan barakah
Dijelaskan bahawa al-Quran tidak diturunkan sekali gus tetapi berangsur-angsur agar hati Nabi Muhammad s.a.w. menjadi kuat dan tegap.
“Nabi Muhammad s.a.w. hidup di Mekah selama 13 tahun dan Madinah selama 10 tahun. Jadi bagaimana pula al-Quran boleh diturunkan sekali gus 30 juz? Baginda menerima wahyu daripada Allah s.w.t. semasa hidup dan sewaktu wafatnya barulah al-Quran lengkap. Allah s.w.t. turunkan al-Quran (lengkap 30 juz) pertama kali dari Luh Mahfuz dan kemudian ke Baitul Izzah (langit dunia) pada malam bulan Ramadan. Setelah melalui kedua tingkatan ini, al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w. selama 23 tahun.
Wahyu pertama diterima melalui malaikat Jibril di gua Hira’. Surah al-Alaq ialah wahyu pertama yang diterima Nabi pada bulan Ramadan, kata Mohd. Zamri.
Penurunan al-Quran kepada Nabi Muhammad s.a.w. terdapat dalam empat surat yaitu al-Alaq (bacalah), al-Qalam (pena), al-Muzamil (orang yang berselimut) dan al-Muddathir (berselimut) yang masing-masing mengandung arti khusus.
Surat al-Alaq ayat 1 hingga 5, Allah s.w.t. berfirman yang artinya : “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia daripada segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam, Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.
Intisari ayat ini ialah Allah s.w.t. memerintahkan Nabi Muhammad s.a.w. supaya melengkapkan diri dengan ilmu dan memperbanyakkan ilmu atas nama Allah. Kebanyakan orang yang berilmu tetapi tidak beriman kepada Allah s.w.t. dan menggunakan ilmu ke arah keburukan yang akan menghancurkan manusia.
Surat al-Qalam yang artinya : “Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis. Allah s.w.t. menunjukkan betapa pentingnya pena dalam menyebarkan ilmu. Untuk mengukuhkan ilmu, manusia diharuskan belajar menulis. Pada jaman Rasulullah s.a.w., para sahabat disuruh menulis di atas pelepah kurma, kulit kambing yang kering dan batu supaya ilmu yang diperoleh tidak hilang.
Ketika Nabi Muhammad s.a.w. berjumpa dengan malaikat Jibril yang menyampaikan wahyu pertama kepadanya, Baginda amat takut hingga menggigil seluruh tubuh badannya. Baginda meminta isterinya Khadijah menyelimutkannya dengan kain yang tebal. Pada masa ini, Allah s.w.t. berfirman: “Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) pada malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) separuh daripada waktu malam atau kurangilah daripada separuh itu sedikit, atau lebihkan sedikit daripadanya. Dan bacalah al-Quran itu dengan tartil. (al-Muzamil: 1-4)
“Turunnya ketiga surat di atas jelas menunjukkan bahaw setelah mempunyai ilmu, perkara yang paling penting adalah mempunyai hubungan yang intim dengan Allah s.w.t. sebelum terjun berdakwah ke dalam masyarakat. Allah s.w.t. perintahkan bermunajat dan bangun shalat pada waktu malam untuk menguatkan mental dan rohani yaitu ciri-ciri penting yang perlu ada pada pendakwah. Sejak turunnya ayat ini, Nabi Muhammad s.a.w. tidak pernah meninggalkan qiamullail.
“Kemudiannya, Allah s.w.t. turunkan perintahnya melalui surah al-Muddathir, ayat 1 hingga 2, yang bermaksud: Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! Ertinya, dengan pengukuhan ilmu dan kemantapan hubungan yang erat dengan Allah s.w.t., berikanlah peringatan kepada orang yang masih belum mengetahui. Kita dapat melihat bagaimana Baginda menghadapi banyak dugaan dan cabaran dalam menegakkan syiar Islam di Mekah,” jelas Mohd. Zamri menceritakan rentetan peristiwa penurunan al-Quran kepada Rasulullah s.a.w..
Berdasarkan surah al-Baqarah, ayat 185 dijelaskan bahaw al-Quran adalah petunjuk bagi manusia yang mengandung keterangan dan bukti. Rentetan yang membuktikan al-Quran diangkat sebagai mukjizat yang kekal hingga hari kiamat adalah berpaduan beberapa peristiwa mukjizat yang diturunkan kepada para Nabi terdahulu.
Sebagai contoh, pada jaman Nabi Saleh, masyarakat ketika itu terlalu bertumpu pada penternakan hingga Nabi Saleh datang dalam bentuk mukjizat dengan menyerupai unta yang keluar dari celah batu.
Begitu juga yang berlaku pada jaman Nabi Musa yang penduduknya gemar mempelajari ilmu sihir. Maka, Nabi Musa diutuskan dalam bentuk mukjizat berupa sihir untuk melemahkan kaumnya. Nabi Musa boleh menukar tongkat menjadi ular yang besar hingga kebolehan luar biasanya itu berjaya menarik kaum tersebut beriman kepada Allah s.w.t..
Masyarakat pada jaman Nabi Isa lebih bertumpu pada ilmu perobatan. Mukjizat yang diturunkan kepadanya ialah Nabi Isa boleh menyembuhkan penyakit, hingga pada saat itu nabi bisa menghidupkan orang yang telah mati dengan izin dari Allah s.w.t..
Pada zaman Nabi Muhammad pula, syair-syair dan kesastraan Arab muncul sehingga pasar-pasar menjadi tempat mendeklamasikan karya mereka dan tulisan tersebut turut digantung di kelambu-kelambu Kaabah. Lalu turunlah al-Quran dalam bentuk mukjizat yang boleh melemahkan ahli-ahli sastra pada waktu tersebut dengan ayat-ayat al-Quran yang begitu indah di samping makna yang begitu jelas dan tepat.
“Itu adalah mukjizat yang diturunkan kepada para Nabi dan Rasul. Persoalannya, pada jaman kita hari ini, di manakah terletaknya mukjizat al-Quran? Jika diperhatikan, manusia akhir zaman ini lebih mengagungkan penemuan terbaru sains dan teknologi. Sedangkan al-Quran telah menerangkan bukti-bukti tentang sains sejak ia diturunkan 1,400 tahun lalu”.
Al-Quran ialah mukjizat yang kekal hingga kiamat kerana terdapat lebih daripada 200 fakta sains yang tidak disingkap sejak ia diturunkan tetapi baru diaplikasikan pada kurun terakhir ini. Islam dan al-Quran adalah satu cara hidup. Al-Quran bukan untuk dibaca tetapi dihayati dan difahami sebagai buku panduan yang kekal hingga hari kiamat. Ramadan ialah bulan yang paling sesuai untuk memperbanyakkan bacaan ayat-ayat suci al-Quran kerana Allah s.w.t. menjanjikan pahala yang berlipat kali ganda.
“Ditegaskan bahaw al-Quran adalah panduan umat manusia menjalani kehidupan di dunia dan akhirat. Untuk menghayatinya, kita bukan saja perlu tahu membaca tetapi memahami maksud setiap ayat yang diturunkan oleh Allah s.w.t. dan beramal kepadanya” .